Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Menag: Founding Fathers Jadikan Agama Alat Pemersatu Bangsa

Oleh Admin 11-04-2016 13:23:26

Bogor (Pinmas) —- Para pendiri bangsa Indonesia, menjadikan agama sebagai alat pemersatu keragaman bangsa. Nilai-nilai agama, mereka yakini mampu merekatkan dan merajut  keragaman, karena masyarakat bangsa ini  religius. Sejak lahir hingga meninggal, hidup kita selalu diwarnai dengan nilai-nilai keagamaan. 

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjadi narasumber dalam Temu Kebangsaan Orang Muda di Bogor, Sabtu (09/04). Temu Kebangsaan Orang Muda ini diikuti generasi muda dari organisasi lintas iman. “Nilai-nilai agama itulah sesungguhya menyatukan kita di tengah keragaman ini,” ujar Menag.

Dikatakan Menag, kalau kita baca konstitusi atau Undang Undang Dasar, lalu ditarik ke belakang ketika UUD ini dirumuskan, maka akan tampak jelas bagaimana nilai-nilai agama mewarnai kebangsaan Indonesia. Mengapa? Karena di tengah-tengah keragaman etnis, bahasa, dan  wilayah geogafis, para pendiri bangsa menjadikan nilai-nilai agama sebagai pemersatu. 

Menag yang dalam kesempatan tersebut berpenampilan kasual, membuat sketsa atau gambar bujur sangkar besar yang terbagi dalam sejumlah bidang kotak-kotak kecil. Kepada peserta Temu Kebangsaan, Menag meminta mereka menyampaikan pandangannya tentang gambar ilustrasi tersebut. Respon dan pandangan peserta ternyata beragam, satu peserta mengatakan bahwa kotak-kotak kecil dalam bujur sangkar itu berjumlah 22, sementara yang lain berpandangan  16, 21, 29, 24, 28, dan ada juga yang menghitung 30. 

Dari simulasi itu, Menag mengatakan bahwa dari satu gambar saja melahirkan banyak persepsi. Ketika ditanyakan manakah yang benar, masing-masing menyatakan pandangannya yang benar. Menurut Menag, setiap agama menyatakan Tuhan-nya satu, kitab sucinya satu, dan seterusnya, tapi pemahaman keagamaan dari yang SATU itu ternyata beragam. Menag mencontohkan, dalam Islam banyak ahli Tafsir, dan dalam menterjemahkan Al-Quran juga beragam pemahaman dan paradigmanya, begitu juga mungkin agama lainnya.

“Intinya dalam konteks tersebut adalah bahwa keragaman ini muncul karena kelebihan dan keterbatasan kita. Gambar yang saya buat hanya satu, tapi dari satu itu menghasilkan cara pandang yang berbeda,” kata Menag. 

Keragaman ini menurutnya muncul karena keragaman seseorang dalam melihat sesuatu. Perspektif atau sudut pandang setiap orang tidak selalu sama.  Sudut pandang yang berbeda ini disebabkan setiap orang memiliki keterbatasan. Karena manusia sebagai makhluk itu ada keterbatasan. “Tuhan menciptakan keragaman agar manusia sebagai mahluk yang terbatas dan tidak sempurna ini bisa saling melengkapi, mengisi dan menyempurnakan satu sama lain,” ujar Menag.

Temu Kebangsaan Orang Muda selain studium general yang menghadirkan Menteri Agama sejumlah tokoh juga hadir, yaitu Deputi Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho, Yenny Wahid, Romo Antonius Haryanto, Pr,  Shirley Leo, Savic Ali, Surya Tjandra, Alamsyah, dan Doni Koeseoma A. Hadir pula Kapinmas Rudi Subiyantoro dan Sesmen Khoirul Huda. (dm/dm)