Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Raih Apresiasi Film Indonesia, Eka: Prestasi Tak Selalu Akademis

Oleh Admin 27-10-2015 07:36:27

Yogyakarta, Kemendikbud --- Film Ijolan karya siswa SMAN 1 Purbalingga, Eka Susilawati, berhasil meraih penghargaan dalam ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2015 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Film yang disutradarainya itu berhasil menyabet penghargaan Apresiasi Fiksi Pendek Kategori Pelajar. Bahkan sebelum diganjar penghargaan di ajang AFI 2015 ini, Film Ijolan juga pernah mendapatkan penghargaan di festival film lain.
 
“Prestasi itu tidak selalu bidang akademik, nonakademik juga ada. Tapi nilai sekolah tetap harus bagus, karena jadi jaminan,” tutur Eka usai acara malam puncak Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2015 di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Minggu (25/10/2015).
 
Film Ijolan menceritakan tentang dua saudara kembar, Nur dan Ratih. Berbeda dengan Ratih, Nur terlahir sebagai seorang tunawicara. Meski memiliki kekurangan, dalam hal akademik, Nur lebih pandai daripada Ratih. Suatu hari, Nur diminta Ratih untuk menggantikannya dalam ujian matematika di sekolah, demi uang Rp100 ribu yang akan digunakan untuk membeli pulsa listrik di rumah. Namun meski mereka membutuhkan uang tu, Nur menolak untuk berbuat tidak jujur. Pesan moral tentang nilai kejujuran inilah yang ingin disampaikan Eka dalam film besutannya itu.
 
Pelajar kelas XII SMA ini juga mengisahkan awal perkenalannya dengan dunia film. SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol Purbalingga adalah tempatnya pertama kali mengenal film. Sekolah ini memiliki kegiatan ekstrakurikuler film yang dinamai Sawah Artha Film. Saat masih duduk di bangku SMP ini pula Eka memproduksi film pertamanya, Langka Receh. Film Langka Receh berhasil meraih penghargaan khusus dalam Festival Film Indoensia (FFI) tahun 2012. Seperti halnya Ijolan, Langka Receh juga mengandung pesan moral kejujuran.
 
Saat duduk di bangku SMA, sekolahnya SMAN 1 Purbalingga tidak memiliki kegiatan ekstrakurikuler film. “SMAN 1 Purbalingga masih menitikberatkan pada akademis, misalnya Olimpiade Sains Nasional (OSN), jadi perhatian untuk dunia seperti ini (bidang kreatif film) kurang,” ujarnya. Namun ia tidak berkecil hati. Bersama teman-teman alumni SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol, Eka tetap aktif mengembangkan kreativitasnya di bidang perfilman dengan bergabung dalam Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga. 
 
Lewat CLC Purbalingga, Eka dan teman-temannya aktif mengikuti berbagai festival film untuk menggalang dana. Ia mengaku, hampir tidak ada bantuan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan dunia perfilman di daerahnya. Padahal CLC Purbalingga sudah cukup terkenal dengan prestasinya. “Kami selalu ikut festival-festival supaya dapat dana untuk nutupin biaya produksi dan untuk biaya ke depannya. Pernah dari seluruh biaya festival, kami berhasil nyumbang dana untuk pembangunan masjid di SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol,” tutur Eka.
 
Ia berharap, pemerintah daerahnya bisa memberikan dukungan terhadap perkembangan film di daerah Purbalingga. Apalagi Purbalingga memiliki CLC dan Festival Film Purbalingga (FFP) yang juga mendapat penghargaan di AFI 2015 untuk kategori Festival Film. “Purbalingga wisatanya tidak maju, karena memang potensi pariwisatanya kurang. Tapi ada kelebihan di komunitas film, kenapa tidak mengembangkan potensi film pendek?” katanya. Dukungan itu, lanjutnya, tidak harus berupa dana, namun bisa juga berupa kemudahan perizinan atau birokrasi, misalnya saat meminjam lokasi untuk keperluan syuting.
 
Kepada pelajar di seluruh tanah air, Eka juga berpesan untuk terus berprestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang nonakademik. “Kalau kita berprestasi pada bidang seperti ini, kita punya kepuasan batin, refreshing, bisa kenal banyak orang dan banyak pengalaman,” ucap Eka. (Desliana Maulipaksi)