Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Apa Hidup ini Lebih Indah Dari Mimpi?

Oleh Admin 23-10-2015 15:41:17

Berbeda dengan teman-teman lain yang sudah menentukan pilihannya ia sendiri masih bingung dengan dua objek wisata yang mesti dipilihnya. Entah apa yang membuatnya kebingungan, padahal ia tidak dihadapkan dengan milyaran pilihan, ia hanya akan memilih satu di antara dua objek wisata yang mesti ia kunjungi –objek wisata domestik atau destinasi tur internasional– tapi tetap saja ia belum menentukan arah mana ia akan menuju.

Setelah beberapa hari pendataan peserta pariwisata, di pekan terakhir pendataan ia pun menyelipkan namanya di antara nama teman-temannya yang lebih dulu memantapkan diri untuk berkunjung ke objek wisata domestik. Destinasi yang sangat terkenal bagi orang-orang pribumi maupun orang-orang yang tidak terlahir di bumi Indonesia.

Sebenarnya ia tidak begitu tertarik untuk mengunjungi Bali walau tempat tersebut menawarkan beraneka menu keindahan yang akan memuaskan selera para pengunjung tanpa mengecewakannya. Kelihatannya ia akan lebih senang jika dirinya mengunjungi objek wisata lokal pada program pariwisata saat itu. Nampak jelas bahwa ia tidak ingin merangkak jauh ke negeri orang sementara jejak kakinya belum membekas di daerah sendiri. Hanya saja sampai saat ini belum ada terdengar kabar walau sebatas rumor bahwa akan ada kunjungan wisata ke destinasi lokal.

Pelaksanaan program pariwisata memang masih menunggu waktu yang terbilang lama, sekitar tiga bulan lagi. Tapi bagi kebanyakan teman-temannya, mereka sudah mulai ribut dengan perbincangan-perbincangan kecil dan juga sibuk menyusun berbagai program yang akan dilaksanakan saat wisata nanti. Bagi mereka yang akan berkunjung ke Malaysia dan Singapura sudah mulai sibuk mengurus passport yang merupakan bekal wajib bagi pengunjung wisata luar negeri. Tidak seperti dengan dirinya yang terdaftar sebagai mahasiswa peserta pariwisata domestik ia terlihat biasa-biasa saja seperti tanpa beban, bahkan ia belum menyetor uang serupiah pun ke panitia pelaksana tourism.
Meskipun ia terlihat santai tapi dalam benaknya tersimpan harapan besar, berharap ada teman lain yang memiliki keinginan yang sama dengan dirinya. Ia sangat menantikan adanya pariswisata ke destinasi lokal. Bukan karena biaya tur domestik dan internasional memerlukan biaya yang lebih besar. Hanya karena keinginannya yang sederhana, ia tidak ingin buta, tuli serta bisu akan budayanya sendiri.

Pagi itu di awal Januari mungkin ia harus memendam hasrat dan menunda keinginannya karena sampai beberapa pekan belum juga terdengar keinginan yang sama dari rekan-rekannya. Itu berarti ia harus merelakan dirinya untuk menuju pulau Bali jika memang nantinya tur lokal benar-benar tidak ada.

Menunggu hujan mereda ia menyibukkan diri dengan mengakses situs internet, ia membuka situs jejaring sosial facebook yang ia yakini menyibukkan banyak orang di saat yang sama menunggu rintik hujan segera berhenti. Seorang teman yang berada tidak jauh darinya yang sedari tadi sibuk membaca buku ber-cover kuning menyapa.
“sob… nanti jangan kaget yah..!!!”. Ucapnya singkat.
“ya bro…!” jawab Adi juga singkat. Sepertinya ia mengerti kalau temanya itu mengingatkan jika suara petir bisa saja membuatnya kaget tanpa terduga.
“saya selalu waspada bro dengan suara petir”. Sambungnya untuk meyakinkan bahwa ia mengerti dengan maksud temannya.
“bukan itu maksud saya sob…!!!”. Jawabnya lagi-lagi singkat tapi mengundang Adi untuk kembali bertanya.
“terus, jangan kaget yang kamu maksud.? Apa..?”. Ia mulai terlihat penasaran.
“itu sob, tentang tourism nanti…”.
“ya bro…!!! ada apa dengan tourism kita…?”. Adi semakin mendesak jawaban yang lebih jelas.
“nanti jangan kaget kalau saya tidak ada di pulau Bali sob…”.
“owh begiitu bro…”. Adi memotong penjelasan temannya. Dalam benaknya ia berpikir temannya itu akan mengubah jalur tourismnya menuju Malaysia dan Singapura. “oke bro… berarti kamu mau ke luar negeri ya…?”. Lanjut adi..
“tidak sob…!! Saya belum berpikir untuk ke luar negeri sampai sakarang ini…”. Jawaban temannya kembali menambah rasa penasaran.
Adi mencoba menampik rasa penasarannya dengan membaca deretan kata-kata status pada wall facebooknya. Ia tidak lagi bertanya kepada temannya yang hanya memberi jawaban yang tidak memuaskan. Ia menganggap temanya itu hanya membuat candaan belaka. Lagi pula tidak ada destinasi lain selain pulau Bali, Malaysia dan Singapura. Adi menganggap temannya itu tidak akan melakukan tur lokal seorang diri.
“hemmm… haha”. Tawa kecil Uci kembali mengganggu suasana. Ia sudah tidak sanggup menampung berita yang didapatnya beberapa hari lalu. Ia sudah tidak sabar memberi tahukan Adi yang sudah mulai tidak peduli dengan omongannya yang sengaja dirancang untung membuat penasaran.
“begini sob…”. Uci kembali berbicara mencoba lebih meyakinkan. Sepertinya memang benar ada berita baru yang akan diberi tahukan ke Adi yang ada di ruangan yang sama. Adi juga kembali serius mengalihkan perhatiannya.
“saya serius sob, tidak ke Bali apalagi ke luar negeri, saya mau pulkam, tourism di kampung sendiri…!!!”.
Sebelum ia mengakhiri penjelasannya. Adi segera memotong sepertinya ia sudah mengerti maksud temannya itu.
“berarti ada destinasi lokal…? KAJANG…?”. Jawab Adi spontan. Ia begitu yakin kalau temannya itu akan mengabarkan tentang KAJANG sebab ia sendiri sudah tahu persis kalau temannya itu selalu membahas tentang desa adat tersebut di ruang kuliah.
“ea sob,!!! beberapa hari yang lalu ada beberapa teman kita di ruangan lain yang ingin mengadakan tur ke objek lokal…!!!, dan mereka sepakat untuk ke daerah Kajang…!!!,saya ikut sepakat dengan mereka!!! hanya saja belum menanyakan persetujuan dosen pembimbing sob!!!”. Uci menjelaskan dengan serius, juga sangat senang sebab seperti dengan keinginan Adi, ia juga mengimpikan untuk berwisata ke tanah Kajang.

Dari penjelasannya Adi terlihat mengerti kalau topik tersebut belum menjadi hot news di antara teman-teman mahasiswa yang lain. Ia juga seolah menghirup udara segar pagi itu, sepasang bola matanya berbinar memikirkan sesuatu. Nampak begitu semangat menantikan impiannya akan berubah menjadi kenyataan. Hal itu juga menjadi sinyal kuat untuk membatalkan kunjungannya ke pulai Bali.
“waduh bro!! kenapa tidak memberi tahukan sejak kemarin-kemarin”. Adi sedikit menyesalkan.
“memang sengaja sob..!!! terus jangan sampai rencana kamu ke Bali jadi batal”. Jawab Uci yang namanya juga terdaftar sebagai peserta tur domestik ke pulau Bali.
“haha, kamu…!!! Padahal kamu sudah tahu dari awal saya lebih berminat untuk tur lokal!!! hanya saja waktu itu belum ada kesepakatan!!!.. oiya pasti dosen pembimbing sepakat, setuju dan merelakan rencana kita broddd…”. jawab Adi sangat optimis.
Ia begitu yakin karena dalam perkuliahan beberapa minggu lalu KAJANG dibahas untuk menjadi tujuan pariwisata lokal tahun ini. Akan tetapi tidak begitu ditanggapi oleh banyak mahasiswa sebab di benak mereka adat orang-orang Kajang penuh dengan hal-hal mistis.
Tapi bagi Adi justru akan lebih mengira-ngira dan hanya menduga-duga jika tidak mengunjunginya secara langsung mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Keesokan harinya setelah berita menyenagkan itu terdengar oleh Adi, ia segera memberi tahu ke ketua panitia tourism untuk segera mengahapus namanya dari daftar wisatawan domestik tanpa memberitakan sebab dan alasan yang sebenarnya.

Sejak disepakati oleh dosen pembimbing ia semakin yakin akan mengunjungi desa adat tersebut sebagai destinasi wisatanya, sering kali ia berdikusi kecil-kecilan dengan peserta tur lokal lain yang jumlahnya masih bisa dihitung jari. Beberapa hari lagi tur akan dilaksanakan, ia berharap program perjalannya akan berjalan dengan baik sesuai dengan susunan-susunan rencana yang disepakati pada rapat sederhananya beberapa hari lalu.

Pagi di awal Februari, cuaca sepertinya sangat bersahabat di tanggal 3 itu. Adi menikmati segelas kopi hitam yang berada tepat di hadapannya sebelum menuju kampus untuk acara pelepasan peserta tourism lokal, domestik dan juga internasional. Memang hanya segelas kopi hitam dengan rasa pahitnya, tapi begitu berharga untuk menambah kesegaran menjalani aktivitas hari itu.

Mentari di pagi itu memancarkan senyuman yang sangat menawan, begitu indah untuk mengiringi perjalanan hari itu. Dengan semangat level tinggi Adi bersegera menuju kampus setelah semuanya dipersiapkan.
Setelah acara pelepasan dilaksankan, para peserta pariwisata lokal akan segera menuju lokasi yang hanya berjarak 5 jam perjalanan darat dari kampus. Dengan kendaraan roda empat sederhana yang juga hanyalah mobil-mobil sewaan yang mereka tunggangi tapi cukup membuat mereka sangat bahagia dengan perjalanan pagi itu. Lambaian tangan dan senyuman manis dari para peserta tur domestik dan internasional yang masih menunggu sekitar 2 hari lagi untuk melakukan perjalanannya memberi semangat tambahan bagi rombongan pariwisata lokal.

Dalam benak Adi perjalanannya memang terlihat sederhana tapi terasa sangat istimewa. Memang perjalanannya tidak menembus awan putih di angkasa, hanya perjalanan darat menelusuri aspal hitam yang mulai panas karena terik matahari. Perjalanan yang sangat menyejukkan mata dengan segela keindahan pemandangan di kiri kanan jalan yang dilalui, alam terasa sangat ramah, tidak sekejam kehidupan di kota yang dengan kegersangan dan polusi udaranya setiap saat bisa menikam siapa saja yang ada di dalamnya.

Terlihat jelas dari balik kaca jendela mobil hamparan padi-padi hijau yang berjejer rapi di persawahan yang terbentang luas. Di tengah-tengahnya berdiri gubuk kecil yang siap menjadi tempat istrahat para petani jika kelelahan dan juga siap menampung hasil jerih payah mereka yang telah berubah menjadi butiran-butiran padi. Di sudut lain terlihat sepasang kerbau yang asyik menyantap rerumputan di pematang-pematang sawah, binatang-binatang itu terlihat lahap memakan rerumputan, tapi tetap saja mengerti bahwa haknya hanya untuk memakan rerumputan sawah. Mungkin tidak ada yang istimewa dari sepasang kerbau itu, tapi dalam benak Adi sepasang makhluk Tuhan yang tidak berakal itu terlihat lebih cerdas dari kebanyakan penguasa negeri yang tidak mau tahu akan hak orang-orang lemah di sekitarnya.

Sungguh perjalanan yang penuh keindahan dan ketenangan. Sejenak ia berpikir hidup itu ternyata lebih indah dari sekedar bermimpi. Adi tidak ingin segalanya berlalu begitu saja, ia segera menggoreskan penanya, lalu ia membuat catatan kecil di lembaran pertama dalam buku diarynya. Itu adalah tulisan pertamanya, seperti bocah yang baru menemukan ballpoint. Ia berharap buku diarynya penuh dengan catatan indah selama perjalanannya. Mimpi-mimpi kecilnya mulai menjadi nyata, ia berharap keindahan alam pada tulisannya tidak akan rusak tertabrak roda-roda modernitas.

Cerpen Karangan: Adhy7
Facebook: van adhie