Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Makna Kehidupan

Oleh Admin 23-10-2015 15:39:39

Indahnya tahun baru 2014 meskipun pada detik pertamanya, alam menyambutnya dengan tangis haru. Suka cita dan bangga langit kota menyambutnya dengan turun Gerimis nan indah. Bak bidadari yang turun dari kayangan. Berjajar rapi beriringan seperti tarian air yang dapat membasahi kalbu.

Pagi itu hujan turun hampir dari seharian. Semua orang cemas akan cuaca pagi itu. Udara suci yang belum terjamah oleh manusia itu terpaksa harus bergulat dengan rentetan air kayangan. Dedaunan melihatnya dengan tatapan yang iri.
“Lihatlah mereka! Air dan udara sangat ramah. Tak seperti aku dan ulat pohon. Air dan udara bermadu kasih, menghasilkan buah karya indah yang disebut pelangi. Tapi, lihatlah aku! lihatlah aku yang hanya menjadi makanan ulat. Padahal ulat hidupnya hanya bisa membuat manusia gatal.” Daun menggerutu sambil mengalirkan air yang sedari tadi menetesi tubuhnya hingga membuatnya seolah menari.
“Aku bangga kehadiranku ini membuat pohon yang aku tinggali ini menjadi berbuah. Tanpa aku, buah akan hancur terjatuh dan tersapu angin. Dan tak bisa dimakan oleh manusia yang gemar merawatku. Tapi di sisi lain, aku benci kenapa kehadiranku untuk dimakan ulat yang dapat membuat manusia bergidik. Kenapa Tuhan menciptakanku seperti ini? Tuhan pasti salah. Tuhan salah!” Bentak daun dengan keras. Saking kerasnya membuat tangkainya yang lunglai terputus dari batang pohonnya. Akhirnya daun itu pun terpisah oleh angin yang berhembus saat fajar shodiq tiba.
Daun itu pun terombang-ambing tertiup angin hingga tinggi sekali. Suara gemuruh halilintar bersahutan seolah murka terhadap daun yang tak ikhlas menjalani kehidupannya. Sangat menggelegar membuat daun yang tipis itu ketakutan hingga makin pipih.
“Kenapa aku harus takut dengan kalian? Aku tak punya urusan dengan halilintar. Aku hanya tak mengerti kenapa Tuhan menciptakan ulat.” Masih seperti tadi, daun itu terseret genggaman angin hingga daratan sudah tak kelihatan lagi. Daun itu terbawa ke atas awan. Warna kelabu mendung perlahan mengikis. Transisi warna kelabu kehitaman bercahaya itu benar-benar membuat mata terpana.
Daun itu pun terkesima akan yang ia lihat sekarang. Apalagi perlahan langit malam itu memancarkan corak pelangi. Goresan tinta gemerlap penuh warna menghiasi langit itu. Seperti kabut, namun indah bagai pelangi. Benda itu memang pelangi malam. Lebih sering disebut Aurora.
“Hai Aurora! Tuhan menciptakanmu begitu indah. Tapi kenapa aku buruk kecil dan menjadi makanan ulat? Aku pikir Tuhan tak adil!” Daun berdesah mengungkapkan perasaannya yang gelisah kepada Aurora.
“Jika aku dapat memilih, aku lebih ingin menjadi daun. Untuk apa aku indah jika aku jarang terlihat. Keindahanku juga terhalang oleh awan. Tak ada yang dapat aku banggakan.” Daun pun merenung terpukau. Daun tak mengerti akan ciptaan Tuhan. Daun pun bergumam.
“Sebenarnya untuk apa kita diciptakan? Aurora pun tak bangga aku pun tak tahu kenapa aku diciptakan sebagai makanan ulat. Aku yakin Tuhan memang benar-benar salah.” Hingga lambat laun angin mulai berhembus pelan. Hingga membuat daun turun dengan perlahan. Sampai akhirnya daun itu mendarat di taman yang basah bekas tetesan air hujan.
Kemudian matahari pagi mulai menyongsong hari. Kicau burung nan merdu bak lantunan penyair. Daun melihatnya dengan cemburu.
“Benar-benar indah pagi ini. Aku jadi ingin seperti burung-burung. Berkiacau ria, berkembang biak, dan dapat memburu ulat.” Daun sadar akan indahnnya pagi. Hingga dia tetap dapat merasa gembira walaupun dalam perasaan hambar.

Kemudian lewatlah seekor kupu-kupu yang mengepakkan kedua sayapnya. Begitu indah corak sayapnya hingga membuat daun yang terbaring itu berdecak kagum.
“Indah sekali. Manusia pasti senang melihatmu kupu-kupu. Apalagi karena kupu-kupu terjadi perkembang biakan sebuah pohon yang kemudian dirawat manusia. Tapi bukankah kupu-kupu dulunya ulat pemakan daun?” Daun pun kini menyadarinya. Ulat yang sering dia kutuk, kini menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu yang hidup dari tangkai ke tangkai, membawa serbuk sari, dan membuat pohon baru tumbuh.
“Aku salah tentang Tuhan. Aku hanya tak tahu apa-apa tentang makna kehidupan ini. Aku memang bodoh! Kini aku rela tubuhku dimakan ulat. Biar ulat tumbuh menjadi kupu-kupu, membawa kehidupan pohon baru, dan akhirnya tumbuh daun-daun yang baru. Daun akan ada di setiap pohon. Dirawat manusia dan membawa ketentraman bagi semua makhluk di muka bumi. Kita memang diciptakan berdampingan. Dan sekarang baru kusadari hal itu. Hidup ini indah dan bahkan kini aku rela tubuhku dimakan ulat jika itu membuat alam sememesta menjadi lebih indah.” Kata daun itu dalam hatinya dan merenungi penyesalannya.
Kemudian semakin lama waktu berjalan, kesegaran daun itu mulai memudar. Yang awalnya hijau menjadi kuning. Hingga akhirnya daun itu terinjak-injak hingga menjadi sebuah debu.

Cerpen Karangan: M N Sholachuddin
Facebook: facebook.com/www.colah.co.cc
Twitter: @ColahKamila