Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Senja di bawah Erupsi Gunung Kelud

Oleh Admin 23-10-2015 15:37:56

Siang ini terasa panas di sudut kota Kediri. Ayu dan teman-temannya yang sudah datang dari tadi pagi masih terus membagi–bagikan masker kepada para pengguna jalan. Semalam, setelah mendengar kabar bahwa gunung Kelud telah meletus, Ayu dan teman–temannya langsung bergegas menjadi relawan.

Ia dan teman–temannya yang sudah masuk tim pecinta alam merasa sangat terpanggil untuk membantu para korban erupsi gunung Kelud yang meletus pada malam hari pada tanggal 13 Februari 2014 ini. Tak disangka ternyata banyak sekali para pemuda lain yang datang membantu. Salah satunya adalah rombongan Pramuka. Mereka membantu membersihkan rumah warga yang penuh akan debu vulkanis.

“Istirahat–istirahat,” Kak Mada berteriak–teriak memperingatkan para relawan yang sudah setengah hari bekerja.

Ayu bergegas mengambil minum dan makan yang sudah disiapkan oleh teman–temannya satu sekolah. Ia dan Nabila mencari tempat yang nyaman untuk makan dan beristirahat. Nabila mengajak Ayu untuk duduk di bawah pohon mangga yang terletak di pinggir jalan raya. Saat Ayu dan Nabila hendak duduk tiba–tiba datang dua relawan yang sedang membawa satu karung pasir.

“Maaf Mas, ini pasirnya mau ditaruh mana?” Tanya Ayu kepada salah seorang laki–laki.
“Di sini Mbak, di bawah pohon mangga ini.” Jawab lelaki itu sembari menatap wajah Ayu.

Ayu menatap mata lelaki itu sesaat, wajahnya yang putih tetap terlihat tampan meskipun tertutup masker dan debu vulkanis. Matanya terlihat berbinar bulat. Hidungnya yang mancung membuat Ayu kagum pada lelaki itu.
“Maaf Mbak permisi ya, ini pasirnya berat banget.” Tegur lelaki itu.
“Oh, iya Mas, maaf.” Jawab Ayu.

Kedua pemuda itu langsung meletakkan karung pasir yang dibawanya setelah Ayu dan Nabila beralih dari tempatnya.

“Mas, kok nggak istirahat dulu, ini kan udah siang.” Ajak Ayu.
“Iya Mbak, ini sebentar lagi juga mau istirahat. Cuma kurang 3 karung pasir aja kok.”
“Oh, kalau mau makan, ambil saja di sana Mas.” Ayu menunjuk ke arah teman–temannya yang sedang rebutan mengambil makan.
“Iya, terima kasih Mbak.” Jawab lelaki itu sembari membuka masker dan melemparkan senyum manis.
“Semangat, ya Mas!” Ayu tak mau kalah, Ia memberikan senyum termanisnya pada lelaki itu.
“Mbak namanya siapa?” Tanya pemuda itu sembari menjulurkan tangannya, mengajak berkenalan.
“Saya Salsabila Ayu Hanifa, panggil Ayu saja, Mas siapa namanya?”
“Saya Gian Aditya Ardhani, panggil saja Gian, kalau Mbak yang satunya namanya siapa Mbak?”
“Saya Nabila Hasna Amira, dipanggil Nabila atau bila.”
“Masnya namanya siapa?” tanya Ayu kepada teman Gian.
“Saya Pandu Wijaya Kusuma, panggil saja Pandu.”

Setelah berkenalan mereka berpisah, Ayu dan Nabila mencari tempat yang nyaman untuk makan. Tak berapa lama Gian dan Pandu mendatangi mereka berdua dan ikut makan siang bersama. Mereka membicarakan gunung Kelud dan bercanda bersama. Tak butuh waktu lama, mereka berempat sudah sangat akrab layaknya teman sehari–hari.

“Kerja lagi yuk,” Ajak Gian.
“Ayo,” Jawab Ayu.
“Kalian bantuin kita aja deh ngangkatin pasir.” Ajak Gian.
“Nggak ah, ntar tangan aku berotot.” Canda Ayu.
Lalu mereka berpisah kembali, Ayu dan Nabila membantu membagikan makanan di pengungsian sedangkan Gian dan Pandu kembali membersihkan debu vulkanis yang ada di jalan.

Siang itu, meski gemuruh Masih terus bersahut–sahutan, meskipun debu masih berlari–larian dikejar angin, tak memadamkan semangat para relawan yang membantu korban erupsi gunung Kelud, mereka bekerja sesuai dengan kemampuan mereka. Para relawan ini pun Masih bisa tersenyum dan bercanda bersama teman–teman mereka yang baru. Termasuk Ayu, Nabila, Gian dan Pandu.

Tak terasa mentari telah menepi di ufuk barat, para relawan kembali beristirahat. Mereka berkumpul, bercanda, dan tertawa bersama melepas lelah setelah seharian bekerja menghadang hajaran debu vulkanik. Beberapa relawan memilih berkumpul di tempat terbuka, seperti di lapangan atau di bawah pepohonan, sembari merasakan semilir angin dan pancaran sinar mentari senja.

Ternyata dibalik meletusnya Gunung Kelud tak hanya membawa duka dan bencana, namun kebahagiaan mendapatkan teman–teman baru pun sangat terasa. Mereka, para relawan memiliki teman–teman baru yang satu hati. Mereka menikmati mentari senja kota Kediri di bawah kaki Gunung Kelud.

Cerpen Karangan: Fitri Dwi Febriyanti
Facebook: Fitri Dwi Febriyanti