Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Selempang Semangat Dari Warna Terindah

Oleh Admin 23-10-2015 14:25:55

Panas menikam cakrawala, langit biru nampak indah dilukisi awan putih, angin berhembus sepoi membelai manja.
“Hmm!!! begitu menyejukan”
Keindahan dunia dapat ku rasakan begitu nyata dari paru-paru kota ini, dengan permadani hijau yang dihiasi warna-warna bunga yang nampak seperti alveoli -bola-bola mungil dan diliputi oleh pembuluh darah yang melekat pada bronkus manusia. Namun, semuanya hilang dalam sekejap, setelah seorang lelaki bersama gerombolannya membawa monster-monster besar yang kaku, keras dan tak berperasaan meluluh lantahkan semua alveoli itu. Semakin lama, mereka mulai memperbesar jajahannya, tak hanya paru-paru kota ini namun sedikit demi sedikit mengancam kehidupan kami.

“Bagaimana ini Lala?” tanya Rara gelisah.
“Aku juga bingung, aku tidak tahu harus bagaimana?”
Pandanganku lalu mengarah pada seorang pria yang sibuk mondar-mandir sambil menempelkan sebuah HP di pipinya.
“Ayo!” ajakku sambil menggandeng lengan Rara. Rara berusaha mengikuti tanpa banyak bertanya.

Penasaran dengan apa yang aku lakukan Rara mencoba mengikuti arah pandanganku, setelah menyadari apa yang akan aku lakukan, Rara berusaha menggerak-gerakan lengannya berusaha melepaskan gandenganku, namun sayang gandenganku terlalu kuat untuk Rara lepaskan.
“Ah, Mila kamu terlalu nekat!” berontak Rara.
“Hmm! Mungkin!” jawabku singkat.
“Itu bukan jawaban yang aku harapkan” sambil terus memberontak, berusaha melepaskan gandenganku.

Kami berhenti tepat di belakang seorang pemuda yang memunggungi kami.
“Hey!, Apakah kamu tidak tahu betapa berartinya taman ini untuk kami?” kataku dengan nada yang cukup ditekankan.
Kepala lelaki itu lalu berputar cepat ke arah kami, Pandangan kami bertemu pada sebuah titik.
“Maaf, apa ada masalah?” tanya lelaki itu memastikan, dengan nada hati-hati sambil memasukan Hp-nya ke dalam saku jasnya.
Aneh! Tiba-tiba napasku menjadi sangat mencekat, aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatiku.
“Maaf, apa ada masalah?” ulangnya dengan dahi yang dikerutkan.
“Mila kamu baik-baik saja?” Tanya Rara dengan raut wajah keheranan karena aku tidak memberikan tanggapan.
“Ahh! aku baik-baik saja!” jawabku sedikit terbata.
Kerutan di dahi laki-laki itu mulai memudar, “Maaf apa ada masalah?” tanya lelaki itu untuk kesekian kalinya.

Aku berusaha menghilangkan apapun perasaan dalam hatiku saat ini, aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka mulut. Aku menghela napas panjang dan, “Apa kamu tidak pernah memikirkan taman kami? kerusakan yang akan kamu perbuat?” kataku sambil berusaha mengontrol nada bicaraku agar tetap terdengar tenang.
“Maafkan aku. Tapi, hal ini bukan inginku, jadi aku mohon jangan pernah mengomentari hal ini padaku!”

Jantungku kembali berdegup kencang mendengar nada bicaranya yang cukup lembut.
“Maksudmu apa?” timpalku dengan melemparkan mimik wajah keheranan. Namun lelaki itu nampak tidak mempedulikan ucapanku, bahkan ia pergi berlalu meninggalkan kami memasuki sebuah mobil mewah yang tiba-tiba saja berhenti tepat di dekat kami. Wajahku mulai memerah.
“Hey, apa maksudmu?” tanyaku lagi sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil itu, namun percuma tetap saja mobil itu berlalu meninggalkan kami.
“Sudahlah La! Mungkin dia sibuk!” sangkal Rara.
Otakku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Senang atau marah? Aku tidak tahu apa yang sedang melandaku, tapi ingin sekali rasanya menampar lelaki itu sekali saja.

Sore itu aku berlari-lari kecil sepanjang trotoar menuju sekolah, sesekali ku lirik arloji hitam di tanganku. “pukul 16.35″ desahku. Setibanya di sekolah bahkan belum sempat untuk mengatur napas sebuah nada tinggi terdengar tegas penekanannya di telingaku.
“Aku pikir kamu sudah berhenti dari Go Green!” sindir Gilang dengan nada yang cukup ditekankan. Gilang adalah salah satu senior di ekskul Go Green yang aku ikuti, aku memang mengenal Gilang dengan dekat bahkan lebih dari sekedar teman, walau begitu dia tidak segan memarahiku atau bahkan menghukumku jika aku melanggar aturan-aturan Go Green.
“Maaf!” desahku.
“Lain kali jangan terlambat. Sudah sana lekas duduk.”

Setelah memastikan susana terkendali lagi Gilang lalu melanjutkan kembali materi ruang hari ini.
“Kita harus berusaha menjadi bibit terbaik, karena dari bibit itu kelak akan tumbuh sebuah pohon yang akan berdiri kokoh dan menancap kuat ke bumi kita ini, walaupun itu hanya sebuah analogi mari kita bersama-sama membuat hal itu menjadi nyata!” jelas Gilang. “Ada pertanyaan?” tambahnya.
Hanya aku yang terlihat mengangkat tangan.
“Ya, Mila” tunjuk Gilang.
“Seperti yang kita tahu bahwa udara kita sudah tercemar oleh aktivitas manusia saat ini, lalu apa saja hal-hal sederhana yang bibit seperti kita bisa lakukan untuk menolong bumi?”
“Kita bisa melakukan penghijauan seperti salah satu program tetap ekskul kita dimana penghijauan ini dapat melangsungkan proses fotosintesis lalu kita bisa melakukan reboisasi atau penanaman kembali, pengolahan daur ulang atau penyaringan limbah asap industri. Banyak cara sebenarnya tapi semua tergantung pada kepedulian kita terhadap lingkungan” terang Gilang panjang lebar.

“Kita juga bisa membuat paru-paru kota!” tambah Rara.
“Ya, membuat paru-paru kota juga bagus, karena paru-paru kota adalah penyumbang suplay oksigen yang kita andalkan saat ini.”
“Saat ini? maksudnya apa?” tanyaku.
“Bagaimana tidak, akibat pembabatan hutan secara liar membuat sebagian wilayah kita menjadi tandus, banyak lahan yang tidak terawat, dan otomatis hal itu berdampak bagi manusia, jadi karena kita tidak bisa membuat hutan dalam waktu singkat. Lebih baik kita buat cabangnya, ya di antaranya membuat taman. Kita awali dari hal kecil dulu lalu kita merangkak sedikit demi sedikit membentuk hal besar itu.”

Gilang berhenti berbicara setelah menyadari bahwa aku tidak mendengarkan pembicaraannya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Gilang lembut. Aku hanya memaksakan sebuah senyuman getir untuknya. “kamu sakit?” tanyanya lagi sambil memindahkan posisi duduknya ke arahku.
“Tidak!” sangkalku cepat, ada rasa bersalah melihatnya terlalu mengkhawatirkanku.
“Lalu?”

Air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya mengalir juga, Gilang mencoba menenangkanku dalam pelukannya, membiarkan bajunya basah karena air mataku. Ini kesekian kalinya aku menangis lagi karena pabrik itu tepatnya taman kami yang dengan hitungan bulan saja sudah disulap menjadi sebuah gedung kaku penyumbang polusi. Untuk beberapa menit kami terus seperti itu sampai akhirnya dia melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia menatapku dengan pandangan lembut, lalu menghapus air mataku yang masih menetes.

“Pabrik itu lagi?” tanya Gilang aku hanya mengangguk pelan sambil berusaha menghentikan tangisanku.
“Uang memang segalanya, tapi bukan berarti uang juga bisa membeli kebahagian kita” hibur Gilang lalu bangkit dari tempat duduknya. “Ayo kita buat lagi semuanya dari awal. Walau tidak semirip yang dulu tapi kita akan berusaha kan?” sambil menjulurkan tangannya.
Sejujurnya aku ragu untuk memulainya kembali. Tapi aku juga ingin melihat pemandangan dunia itu lagi. Aku raih tangan Gilang dan bangkit dari tempat dudukku.
“Semangat!!!” Katanya lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat di keningku.

Pagi ceria, dedaunan yang berserakan di trotoar jalan terkadang seolah-olah menari lembut mengikuti langkah kakiku menuju tempat pembinaan Go Green. Matahari juga terlihat lebih cerah pagi ini setelah kemarin seharian terselimuti awan hitam, segarnya udara pagi memenuhi paru-paruku. Terkadang tak rela melewati momen spesial seperti itu. Ku ambil sebuah camera digital dari saku kecil di ranselku. Blitz camera digitalku terkadang terlihat mengabadikan suasana itu. Di sebuah persimpangan langkahku terhenti saat netraku terpengarah melihat sebuah lahan yang tidak terawat yang dihimpit oleh perumahan perkotaan.
“mengaku orang berpendidikan. Tapi, kenapa mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya?” batinku kecewa.

Tak bertahan lama. Segaris senyum tidak terduga sempat terlihat di wajahku. Segera ku berlari dengan langkah yang lebih ku percepat. Sesampainya di tempat pembinaan mataku berkeliling menyapu sudut demi sudut halaman sekolah tak lama pandanganku berhenti mencari setelah menemukan sosok yang ku cari.
“Gilang!” teriakku dengan tenaga yang masih tersisa.
“Hai!!” balasnya sambil melangkah mendekat ke arahku. “Ada apa nampaknya serius banget?” tambahnya.
“Aku temukan!” sambil mengatur napas yang masih terengah-engah.
“Temukan apa?” tanya Gilang sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
“Aku menemukan sebuah lahan untuk membuat paru-paru itu!”
“di mana?” dengan melempar mimik wajah penasaran.
“Di sana dekat persimpangan jalan yang di depan itu!” sambil menunjuk arah yang ku maksud.
“Serius?” tanyanya memastikan.

Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan simpulan senyum yang semakin melebar.
“Nanti sore kita beli bibitnya ya?” ajakku sambil menggandeng lengan Gilang.
“Hmm! nampaknya sore ini aku tidak bisa!”
“kamu ini kenapa sih? Kalau setengah hati lebih baik aku sendiri saja yang melakukannya”
“Bukan begitu!” sangkal Gilang, “Tapi, nanti sore ada les private biologi. Minggu kemarin aku tidak les karena sakit jadi aku tidak enak hati ah sama Bu Desi kalau minggu ini juga tidak les.” Terangnya hati-hati. “Maaf…” katanya sambil membelai kepalaku manja.
“ya sudah. Semangat ya belajarnya!”
“Ok, dan pasti akan aku bantu membuat taman itu!”
“Aku sayang kamu”

Sore kelabu, sepulang membeli bibit-bibit tumbuhan. Aku menatap lampu-lampu jalan, satu persatu, lampu-lampu itu menyala bak telah tersihir senjanya hari yang mulai menjingga. Kesunyian itu membuatku tenang, hanya ada pohon-pohon yang berderet di tepi jalan, langit jingga yang diukir indah oleh kumpulan awan yang memudar, burung-burung yang terbang kembali ke sarang mereka masing-masing dan jalanan sepi yang diterangi oleh cahaya-cahya yang dibiaskan oleh lampu-lampu jalan, seolah lampu-lampu itu berbagi sinarnya hanya untukku.

Kehikmatan itu mulai menghilang ketika sebuah kaleng minuman bekas mendarat tepat di kepalaku.
“Aduh!!!” jeritku kesakitan.
Seorang lelaki tirus melangkah mendekat ke arahku. “Maaf!” lelaki itu memberanikan diri meminta maaf sambil menjulurkan tangan kanannya ke arahku.
Aku tidak menanggapi permintaan maaf lelaki itu.
“Ini hampir malam loh!”

Aku masih tak bergerak, lelaki tirus itu nampak tidak asing diingatanku. Matanya! rambutnya! bibirnya! wajahnya! Semuanya masih teringat jelas. Lalu, ku ulurkan tanganku untuk menyentuh tangannya!
“Sekali lagi maaf ya! tadi aku sangat kesal makanya ku tendang kaleng minuman itu kuat-kuat.”
Aku baru saja menyadarinya. “Kamu!” kataku dengan nada yang cukup tinggi sambil menunjuk lelaki itu tepat di wajah tirusnya itu.
“Aku?” Tanya lelaki itu sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, Kamu!”
“Memang ada apa denganku?”
“Kamu lelaki yang merusak paru-paru kota kami itu kan!”
“Maksud kamu apa? aku tidak mengerti!”
“Kamu orang yang membawa monster-monster kaku tanpa perasaan itu dan seenaknya meluluh lantahkan taman kami itu kan?” kataku memastikan lelaki itu.
“Tapi..” Belum sempat membela dirinya aku segera memotongnya.
“Sudahlah jangan menyangkal, apa kamu pernah memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan pabrik itu? gas karbondioksida yang setiap hari bangunan itu sumbangkan semakin mengepul di udara, hewan-hewan laut sudah cukup banyak yang mati akibat limbah-limbah dari rumah tangga, sekarang gedung itu mau menyumbang lagi! Kalau kalian ingin menyumbang bukan begini juga caranya” terangku sambil mengatur nada bicaraku setenang mungkin.

Entah bagaimana aku menafsirkan hal ini tapi ada yang berbeda setiap kali aku menatap matanya.
“Apa aku sejahat itu?” tanyanya padaku.
“Iya!” kataku sinis sambil berlalu meninggalkannya.
“Dan oh ya, kaleng bekas minuman itu buang di tempat sampah sebelum sampah itu kelak akan menyakitimu.”
“Hey! tunggu!” teriak lelaki tirus itu sambil mengambil ancang-ancang untuk mengejar namun niat itu diurungkannya karena tiba-tiba teleponnya berdering.

Bersama orang tersayang melukis kembali warna kehidupan.
“Cukup bagus!” kata Gilang sambil mengancungkan jempolnya setelah melihat hasil akhir deretan bunga krisan yang baru selesai kami tanam.
“iya! nampak indah apa lagi jika kita melihatnya akhir pekan besok!”
“Pasti indah” kata Gilang menyambung kalimatku.
Kami menghela napas panjang dari paru-paru baru kami. Terasa puas dengan hasil yang tidak mengecewakan.
“Besok pagi kamu ikut ya?” ajak Gilang.
“Kemana?”
“Kamu lupa ya? kan besok pagi ada penanaman seribu pohon gabungan bersama anggota Go green sman Harapan Bangsa!”
“Astaga! Aku hampir lupa!”
“Aku jemput ya!” tawar Gilang.
“Ok!”

Paginya, Gilang telah stand by di depan rumahku sambil menuntun sepedanya di sampingnya.
“Ayo naik!” ajaknya setelah melihatku menghampirinya.
“Aku tersenyum!”

Aku duduk di sebuah tempat duduk tambahan yang dipasang tepat di belakang sedal Gilang. Kedua tanganku memeluk pinggang Gilang erat. Ya karena Gilang sangat menghargai waktu, dia tidak pernah suka yang namanya terlambat sebab itu dia mengemudikan sepedanya dengan sangat cepat. Angin berhembus kuat menabrak kami, kedua tanganku mencengkram erat baju Gilang untuk berpegangan. Kami sampai di sebuah lokasi penanaman, lapangan yang tandus dan gersang membuatku sangat gerah.
“Panas! Aku baru menyadari perbuatan kita, merusak dan membunuh, hal sehari-hari yang tanpa sadar kita lakukan, Ini dampaknya! Kerusakan yang sedikit demi sedikit semakin nampak jelas.”

Setengah jam kemudian kami memulai menanam bibit-bibit pohon Jati Putih yang telah disediakan panitia. Matahari benar-benar sangat menyengat namun itu tidak sama sekali mengurungkan niat kami, sengatan biasan sinar matahari semakin membakar api semangat yang semakin berkobar terlebih jika aku melihat Gilang, semangatnya menyadarkan aku betapa berharganya dia. Dari dia aku bisa melihat warna-warna hijau itu lagi bahkan bukan hanya sekedar warna hijau saya, dia juga menjelaskan netraku yang mulai buram dengan warna-warni flora indah itu.

Siang ini sepulang sekolah, warna hijau itu tak nampak lagi seperti tadi pagi, udara yang semulanya hangat mulai menerkam dengan panasnya, debu-debu bertebaran memenuhi jalan. “Alam semakin menampakkan kemurkaannya akibat ulah kita”
“Kamu gerah ya?” Tanya Gilang. Aku menjawabnya dengan anggukan lemas. “Tunggu aku di taman ya, aku mau membelikanmu ice cream!”
“Serius?” tanyaku meyakinkan.
“Ya.. Sayang!” dengan nada yang cukup samar karena berlari menjauh, “Tunggu di taman!” mengingatkan lagi.

Cukup lama menunggu sendiri di bangku taman. Gerah semakin aku rasakan saat aku harus bertemu dengan lelaki pabrik itu lagi.
“Hai!!!” sapanya ramah.
“Hufftt!!! aku rasa dunia ini semakin sempit saja, aku heran mengapa laki-laki pabrik ini ada dimana-mana!”
“Hahaha! Kamu ini humoris juga ya!!! dan laki-laki pabrik? Apaan itu?”
“Itu julukan bagi kamu! sebagai seorang perusak!” kataku kasar sambil meunjuk wajahnya.
“Perusak? maksud kamu apaan sih?”
“Ya, Kamu dan monster-monster besar itu secara kasar merusak warna indah itu”
“Maksud kamu taman itu?”
Aku hanya mengangguk geram.

“Aku tahu aku salah, maafkan aku ya. Tapi itu bukan keinginanku, ayahku selalu memaksa semua kehendaknya padaku jadi aku sama sekali tidak bisa membantahnya, Maafkan aku ya?”
“Tapi kamu kan laki-laki mengapa kamu tidak bisa membantahnya?”
“Ya aku tahu tapi..”
“Tapi apa?” tanyaku penasaran.
“Ayahku orangnya begitu kasar aku mematuhi semua keinginannya hanya karena untuk melindungi adik perempuanku”
“Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraanmu!” kataku kebingungan.
“Aku boleh duduk di sini?” tanyanya sopan.

Sempat ada keraguan. Tapi aku begitu kasian melihat wajah memelasnya.
“Baiklah!” jawabku, “Lalu adikmu?” tanyaku dengan melemparkan mimik wajah penasaran.
“Aku mempunyai adik perempuan tapi dia bukan adik kandungku, dulu waktu dia bayi aku menemukannya di taman dan membawanya pulang ke rumah semenjak itu ayah selalu menjadikan adikku sebagai alasan untuk membuatku selalu patuh padanya. Jadi aku tidak bisa melakukan apa-apa” terangnya. “Tapi adikku sekarang sudah meninggal akibat tabrakan mobil yang juga menewaskan ibuku!”

Tiba-tiba saja, di luar dugaanku, lelaki pabrik ini juga bisa menangis.
“Pasti adikmu bangga memiliki kakak sepertimu!” hiburku, “Jangan menagis lagi ya” tambahnya.
“Kamu mau kan memaafkan aku? Dan aku ingin sekali belajar banyak padamu tentang warna yang kau maksud tadi itu” pintanya.
“Pasti!” lelaki itu lalu secara tiba-tiba memelukku tapi entah mengapa aku sama sekali tidak bisa menolak pelukan itu, pelukannya benar-benar membuatku nyaman.
Sementara itu tepat di sisi lain taman, tidak ada satu pun di antara kami menyadari bahwa ada satu orang yang sejak tadi terus memperhatikan setiap kejadian di taman.

Aku benar-benar mengerti hadirmu saat hadirmu kini tak nampak lagi.
Pick up! Pick up Gilang! Aku semakin khawatir dengan Gilang.
“Ada apa? Kamu sakit? Kamu ada masalah? Kenapa kamu lari?”

Dua minggu dia menghilang bahkan seminggu sebelumnya dia selalu menghindar dariku. HP-nya selalu aktif tapi tidak pernah diangkat. Selang beberapa menit HP-ku berdering, aku segera mengambilnya di atas meja belajarku, berharap Gilang yang menelpon tapi harapan itu sirna sekejap setelah melihat nama yang tertera di layar HP-ku.
“Acill!” bacaku lirih “Halo selamat siang!”
“Hai la, nanti sore bisa ke taman kan?”
“Bisa, memang ada apa?”
“Ok! berarti nanti sore kita bertemu di sana!”
“Memang ada apa?”
“Nanti saja kamu tahu sendiri, terima kasih bye!” belum sempat aku menyetujui ajakan bertemu, Acill seenaknya saja memutuskan panggilan.

Walaupun tubuhku bermalas-malasan di tempat tidur tapi otaku terus berfikir keras tentang Gilang. Aku benar-benar khawatir saat ini.
Pukul 15.30.
Aku tersentak dan mataku mengerjap beberapa kali ketika setiap pernyataan itu benar-benar ku mengerti.”
“Aku sayang kamu!”

Aku benar-benar tambah bingung saat ini.
“La!, aku benar-benar berdoa agar kamu mengatakan Iya” sambil menatapku dalam. Tatapannya masih sama seperti saat pertama kali kami bertemu, seolah tersihir oleh tatapan itu, tatapan yang ku rasa hanya khusus untukku.

Tanpa diduga hujan tiba-tiba turun menghapus teriknya mentari, mula-mula hanya gerimis namun hanya berlangsung sebentar hujan deras tak terduga turun membasahi tubuh kami. Namun hal itu tidak membuat kami beranjak sedikit pun dari tempat itu. Ku lepaskan genggamannya dengan hati-hati.
“Maaf! Acil tapi aku tidak bisa mengerti semua ini secepat ini, aku butuh waktu!” Jawabku tertahan.
“Kapan pun kau siap!”
Aku mulai beranjak meninggalkannya selangkah demi selangkah.
“Aku cinta dirimu yang semakin samar itu!!!” teriak Acil.

Teriakan yang sangat keras itu terdengar lirih melewati sela-sela butiran hujan, air mata yang sedari tadi ku tahan benar-benar tak dapatku bendung lagi, ku dongakkan kepalaku menatap langit yang ikut menangis. Air hujan bercampur menjadi satu dengan air mataku. Tiba-tiba rasa sakit menjalar di kepalaku. Sedikit demi sedikit kesadaranku menghilang. Samar-samar aku mendengar suara kaki yang melangkah mendekat disertai suara brankar, entah siapa orang ini punggungnya yang lebar terasa hangat sampai orang itu menghilang saat membaringkanku di brankar.

Dengan cepat para perawat yang nampak panik segera membawaku ke UGD. Setelah entah berapa lama aku pingsan. Mataku terbuka oleh silauan cahaya lampu, aku merasa sendiri di ruangan ini, risih tanpa ada barang-barang yang ku kenal di sekitarku. Dan mengapa aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum aku pingsan. Suara ketukan terdengar dari seberang pintu ruangan.

“masuk!” kataku lirih dengan tenaga yang masih tersisa. “Acil!”
“Kamu sudah baikan?” Tanya Acil sambil tersenyum.
Aku terdiam tidak bisa menjawabnya “Dia! aku ingat apa yang terjadi tadi.” Batinku.
“Cepat sembuh ya!”
“Dari mana kamu tahu aku di sini?” tanyaku melemparkan mimik wajah penasaran.
“Tadi ada seseorang menelponku dan membertahukanku bahwa kamu tadi pingsan dan sekarang sedang dirawat di sini! ” jelasnya.
“Seseorang? Siapa? Apa kamu mengenalnya?”
“Aku tidak tahu dia siapa, tadi dia menelpon dengan nomor pribadi. Tapi, yang jelas dia laki-laki jelas banget dari suaranya yang berat.”

Aku teringat saat berada di atas punggung orang itu walau hanya berlangsung singkat tapi aku rasa itu sangat berkesan.
“Sebenarnya dia siapa? lalu Gilang apa dia tidak khawatir denganku? Gilang kamu ke mana?”
“Ini aku membawakanmu buah, aku kupasin! Kamu makan ya” pintanya.
“Terima kasih!” kataku seraya menerima buah itu dengan canggung.
“Aku sudah menelpon Ibumu! Aku temani kamu menunggu ibumu ya?”
“Acill..?” panggilku lirih.
“Ya?”
Aku menatap Acil lekat-lekat .”Tentang kejadin itu” Nampaknya Acil sudah mengerti arah pembicaraanku.
“Sudah aku akan menunggu sampai kamu siap menjawab pertanyaanku!” potongnya “dan kapanpun itu!” tambahnya seraya tersenyum hangat kepadaku.

Tuhan sangat sulit menerima kenyataan ini, Terlalu banyak polusi membuat paru-paruku tidak berfungsi dengan baik.
“Gilang kamu di mana? ingin sekali ku cerita padamu tentang semua ini, semenjak kamu menghilang semua terasa berbeda tak ada lagi yang menemaniku merawat taman kita!” batinku, dan ketika aku sedang memikirkan itu, aku teringat laki-laki itu lelaki yang saat itu menolongku. Sudah satu minggu lebih aku dirawat di rumah sakit bahkan keadaanku semakin memburuk setiap harinya, tapi tak pernah sama sekali ku dengar berita tentang orang itu.

Menurut dokter luka yang ada di paru-paruku mengalami infeksi dan tidak ada cara lain selain harus melakukan operasi donor organ. Pagi ini aku harus menjalani operasi donor organ itu.
“Ibu sebelum aku menjalani operasi ini apa boleh aku pergi ketaman dulu?” pintaku pada ibu.
“Tapi kondisimu?”
“Ibu tidak perlu mengkhawatirkanku! aku baik-baik saja!” kataku meyakinkannya.
Ibu hanya membalas dengan sebuah simpulan senyum hangat tanda setuju.

Pagi ini udara terasa lebih hangat memeluk tubuhku. Pandanganku tak henti-hentinya menyusuri setiap warna yang ada di taman ini, terlebih bunga-bunga krisan yang ku tanam bersama Gilang dulu seolah-olah tersenyum ramah padaku.
“Terima kasih tuhan aku bisa melihat Warna-warna indah ini lagi!” Tapi, pandanganku terhenti saat melihat setangkai bunga ros merah beledu dan sebuah surat terselip di antara semak daun-daun bunga krisan itu. Aku lalu mengambil bunga ros merah beledu dan surat itu. Aku jadi ingat bunga pertama yang diberikan Gilang padaku. Setelah menarik napas beberapa kali, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka dan membacanya.

“To: MILLA
Saat warna-warna ini mulai bermekaran saat itu jugalah aku akan selalu hadir dalam hatimu. Walau kini kita tak bisa bersama lagi, tapi ku harap warnaku takkan pernah pudar darimu. Aku akan mengorbankan apapun untuk warna terindah dalam hidupku, meskipun perasaan dan paru-paruku sekalipun tapi sekali lagi hanya karena itu kamu warna terindah dalam hidupku. Dan ku harap Kamu bisa terus menjaga warna-warna indah di taman ini bahkan warna-warna yang lebih luas lagi di dunia ini meskipun bukan bersama aku lagi tapi ku yakin Acill akan menjadi warna yang jauh lebih indah dibandingkan aku. Berbahagialah bersamanya, SEMANGAT!!!
Aku sayang kamu!
From: GILANG”

Segaris senyum tak terduga sempat terlihat di wajahku namun tak bertahan lama, rentetan air mata menyusul senyuman itu. Sekuat tenaga aku menahan tangisan itu tapi aku benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan warna terindah itu. Aku berlari secepat mungkin ke rumah sakit sambil menggengam erat bunga ros merah beledu dan surat itu, melintasi jalan yang penuh dengan mobil, menyeberang jalanan itu. Tapi, dadaku tiba-tiba saja terasa sesak, kepalaku terasa begitu berat sedikit demi sedikit pandanganku mulai samar dan kesadarnku mulai menghilang.

Entah berapa lama aku pingsan tapi nampaknya cukup lama. Dadaku terasa sngat perih, saat aku melihat bekas luka jahitan di dadaku bayangan itu hadir lagi.
“Gilang! Gilang! Gilang! Dia di mana?” tanyaku histeris.
Acil memeluku erat, “Kamu harus menerima kenyataannya La!”
“Jadi benar dia yang memberi donor organ itu?” tanyaku dengan nada yang agak meluluh. Acil hanya menjawab dengan anggukan kecil.

Aku langsung menutup mulutku dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Acill.
“Gilang…” bisiku tidak mempercayai kenyataan ini.
“Aku janji bermodal paru-paru dan selempang semangat darimu aku akan menjaga warna dunia ini.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Milatul Azizah
Facebook: Illa Cielrema
Nama: Milatul Azizah
Kelas: XI.IPA 3
Usia: 17 Tahun
Nama sekolah: SMA Negri 4 Praya
Alamat rumah: Praya, KAB. Lombok Tengah, Prov. NTB
Alamat sekolah: Jl. Tuan Guru Lopan Mispalah Praya
Alamat Email: rilastevany[-at-]yahoo.co.id