Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Palajaran Fiqih, Piranti Asah Nalar Kritis Siswa Madrasah

Oleh Admin 11-09-2015 18:14:29

Makassar (Pinmas) —- Dalam periode peradaban Islam, semua disiplin ilmu berkembang pesat. Namun yang paling dominan menjadi kajian pada periode klasik hingga modern adalah ilmu fiqih. Untuk itu, di hadapan para guru mata pelajaran Fiqih, Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan berharap para pahlawan tanpa tanda jasa ini mampu menghadirkan pelajaran fiqih sebagai sesuatu yang menarik, disukai dan menjadi pemicu nalar kritis anak madrasah.

“Bukan hanya sekedar menghafal syarat dan rukun saja, tapi lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik unutk bertanya, bahkan anak didik mempertanyakan,” kata Direktur di Makassar, Selasa (8/9) kemarin.  Sebagai contoh, lanjutnya, guru diharapkan mampu menjawab secara logis jika ada peserta didik mempertanyakan tentang tata cara memandikan jenazah serta tata cara mengkafaninya.

Jika hal tersebut mampu dan tumbuh kembang di madrasah, Direktur meyakini bahwa anak-anak madrasah akan mampu berfikir dan bernalar keislaman yang baik. Oleh sebab itu,  kajian pelajaran fiqih  diharapkan menjadi media menumbuhkembangkan dan mengasah nalar kritis siswa madrasah. “Fikih bagian proses melahirkan daya kritis di Madrasah,” terang Nur Kholis di acara Penguatan Pembelajaran Fiqih pada Madrasah.

Namun, Alumni pesantren Tebuireng ini menggarisbawahi bahwa nalar kritis peserta didik juga harus ditopang oleh pelajaran lainnya, salah satunya adalah Akidah Akhlak. Menurut M Nur Kholis, pelajaran ini bisa dijadikan penyeimbang daya nalar fikih yang menjamin kebebasan berfikir, “Akidah Akhlak menjadi penyeimbang bagi nalar kritis yang ‘bebas’ tadi. Yang nanti akan menjadi bekal orang berfikir kritis positif,” kata Direktur. 

Maka, lanjut Direktur lagi, indahnya Islam terletak pada Akidah Akhlak, tidak seperti di Barat dengan paradigmanya yang menyatakan bahwa agama dianggap sebagai candu, serta budaya kebebasan berfikir tanpa batas sebagaimana dalam ungkapan cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada-red). “Jadi ini tentu lebih banyak menjadi benteng keliaran berfikir tanpa batas. Dengan Akidah Akhlak ini, dalam Islam wujudnya berorientasi pada kemanusiaan,” paparnya.

“Inilah yang akan kita tularkan dan wujudkan pada generasi muslim di madrasah. Tidak ada satupun seperti ini disekolah umum. Maka idealisme yang kita bangun ini berbasis keseimbangan dimensi intelektualitas dan morlitas. Sukes dan tidak tergantung kepada guru bapak sekalian menyampaikan ke perserta didik. Jika penyampaiannya tidak baik, maka tentu manfaatnya tidak banyak. Sehingga dibutuhkan double movement sekaligus,” pungkasnya. (Sholla/mkd/mkd)