Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Budaya Murid MI di Kanada

Oleh Admin 14-05-2015 11:12:25

[Meureudu | Muhammad Ghafar]  Lazimnya pertemuan pertama perkuliahan, antara dosen dan mahasiswa biasanya akan saling berta’aruf dan merumuskan kontrak perkuliahan. Namun lebih dari itu, dosen saya untuk mata kuliah Kimia Dasar turut berbagi pengalamannya ketika mengikuti sebuah pelatihan guru di Kanada.

Di sinilah yang memantik perasaan saya, dimana menurut ceritanya keadaan disana sesungguhnya begitu berbeda dengan keadaan di tempat “kita”.Nama beliau Sabarni, S.Pd.I, M.Pd. lulusan Pendidikan Kimia UIN Ar-Raniry. 

Kemudian menyelesaikan pogram Magister Pendidikan Kimia di Universitas Negeri Medan (UNIMED) pada tahun 2006.

“Pasca Tsunami, mengawali ceritanya, “Negara-negara di dunia banyak menaruh perhatiannya terhadap Aceh. Selain perhatian dalam bentuk bantuan kebencanaan, perhatian juga mengalir dalam dunia pendidikan. Pendidikan adalah manifestasi terbesar dalam kebangkitan sebuah bangsa. Maka sebab itu dianggap hal sakral. Kanada termasuk negara yang ikut andil dalam hal ini.”

Negara bagian Amerika Utara ini merekrut dosen-dosen di Aceh untuk dibekali pelatihan keguruan di Kanada. Saya salah satu dosen kimia yang ikut dalam pelatihan tersebut, Sambungnya. Masih dalam pelatihan, beliau di sana mengajar murid kelas III ‘jenjang MI’ atau Sekolah Dasar.

“Di sini saya menemukan hal yang berbeda dengan yang ada di Indonesia.Ruang sekolah tidak difasilitasi meja dan kursi, mereka belajar dilantai. Sedangkan murid yang berketebelakangan, mereka tidak dipisahkan, juga tidak ada Sekolah Luar Biasa (SLB). Murid yang berkebutuhan khusus dibiarkan bergaul dengan lingkungan dengan didampingi guru khusus,” kisahnya di kampus.

Ini bagian dalam upaya mendidik, mereka dibimbing untuk berinteraksi dan belajar langsung dengan lingkungan normal. Karena belajar di lantai, sepatu dilepas ketika hendak masuk ruangan. Terlihat, mereka antri dengan tertib, tidak ada yang riuh, berdesak-desakan apalagi saling menyerobot. Sepatu tertata rapi dirak di samping pintu masuk ruangan.

Ketika di kelas, tidak ada suara ketika sedang dijelaskan. Jika ada yang kurang dipahami mereka akan angkat tangan ketika dipersilahkan. Pun jika yang angkat tangan lebih dari satu, maka yang diizinkan hanyalah dia yang bicara, yang lain menurunkan tangan tanpa merepet.

Ada seorang murid yang masih kurang paham terhadap jawaban saya, ketika waktu belajar usai, dia bangun sesaat kawan-kawannya meninggalkan ruangan kemudian menyambangi saya dan minta penjelasan lagi terhadap yang masih kurang dipahaminya. Mengenai sistem pembelajaran.

Pembelajarannya langsung di orientasikan terhadap lingkungan atau yang sifatnya objektif. Misalnya dilingkungan sekolah ditanami wortel, wortel itulah yang nantinya akan dipakai menjadi salah satu objek pembelajaran tentang Tumbuhan.Dari sepenggal catatan di atas dapat kita lihat bagaimana budaya murid kelas III SD di sana.

Mulai dari budaya antrinya, menghargai ketika orang berbicara dan sejenisnya. Terlihat budaya mengharagai sesama begitu kental dengan mereka. Itu murid III SD. Sedangkan jika kita bandingkan dengan kondisi di tampat kita, kondisinya amat berbeda. Saya sendiri selaku penggelut dalam dunia pendidikan tentu melihat dengan mata sendiri, bagaimana kita.

Bahkan mirisnya, hal-hal yang tak sewajarnya ada masih terpelihara rapi di pelajar tingkat perguruan tinggi. Dimana budaya gaduh saat sesi antri, gaduh saat dosen berbicara, ketika final atau tes berebut posisi aman dan membuka catatan dan sejenisnya masih bergelut dan akan mewarnai corak pendidikan kita.Jujur saja, saya kehabisan akal berpikir bentuk clossing terhadap tulisan ini.

Menurut saya mengubah tabi’at bukan hal yang mudah. Mindset yang selama ini dibangunn bahwa hanya dosen, guru atau tungku-lah yang hanya berkewajiban mendidik haruslah di hapus. Keluarga, terutama orang tua  sesungguhnya adalah orang yang berdiri di garda terdepan dalam hal ini.

Peran mendidik bukan hanya sedekar berceramah, melihat corak moralitas kekinian pendidikan harus merembes ke dalam bentuk pengawasan dan strategi yang lebih efektif. Kita harapkan agar pendidikan menjadi dirinya sendiri dan harus menjadi dirinya sendiri dalam mendidik anak bangsa, yang berbasis intelektualitas dan moralitas yang anggun. Semoga! [yyy]

[Muhammad Ghafar, mahasiswa Pendidikan Biologi UIN Ar-Raniry. Aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi]

[Foto: Siswa MIN Mesra Ateuk Pahlawan Banda Aceh, salah satu binaan USAID Prioritas, sedang membaca 23/12/14]