Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/specweb/public_html/sch-id/util/konek.php on line 9

Deprecated: Function ereg() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 5

Notice: Undefined index: SESSTAMUGURU in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/judul.php on line 17

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/specweb/public_html/sch-id/theme/tema_1/templ.php on line 33

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

Kemenag: Demi Tingkatkan Kualitas Guru, LPTK Harus Berbenah

Oleh Admin 19-04-2015 17:08:54

Denpasar (Pinmas) —- Kualitas guru dinilai menurun. Indikasi ini dapat dilihat dari hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) yang menguji performa akademik anak-anak usia 15 tahun dan meletakkan Indonesia berada pada nomor urut 2 terbawah dari 65 negara. Demikian disampaikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat memberikan pembinaan terhadap para dekan peserta Koordinasi LPTK Penyelenggara Sertifikasi Guru yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam di Denpasar, Jum’at malam (16/4).

“Ketika kualitas guru menurun, maka yang disalahkan adalah Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK),”  tegas Dirjen Pendis.

Menurutnya, ada pandangan bahwa salah satu penyebab menurunnya tingkat kualitas guru adalah LPTK (dulu IKIP) tidak khusyu’ lagi dengan tugas utamanya, karena sibuk membuka prodi non pendidikan.  Bahkan, ada yang menganalogikan juga, pendirian UIN di beberapa PTKIN akan berdampak sama karena membuka prodi-prodi umum. UIN tidak lagi mendalami ilmu-ilmu keagaamaan.

Namun demikian, Guru Besar UIN Makassar ini menilai analogi pembukaan prodi-prodi umum di UIN akan mengabaikan tugas utamanya sebagai PTKIN tidak sepenuhnya benar. Sebab, menurut Kamar, pengembangan UIN mengarah pada adanya integrasi kelimuan, antara ilmu umum dengan ilmu agama. “Di sinilah tantangan LPTK di bawah naungan Kemenag (fakultas tarbiyah) tetap menjaga kualitas guru,” terangnya.

Negara-negara maju seperti Finlandia dan Inggris, sanga perhatian dalam membina guru. Finlandia sebagai negara terdepan dalam pendidikan dasar dan menengah telah melakukan reformasi pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru minimal S-2. “Bahkan ada survey di Finlandia, profesi yang diidamkan oleh anak-anak muda yang ingin menikah adalah guru,” imbuh Dirjen.

Demikian juga Inggris, memiliki perhatian besar terhadap kualitas guru. Sebelum bertugas, guru harus melalui tahapan pelatihan terlebih dahulu. Dikatakan Kamaruddin, calon guru harus mengikuti pelatihan pedagogik dari fakultas pendidikan plus pemagangan di sekolah dengan bimbingan dari guru senior pada sekolah dan dosen dari fakultas tersebut.

Reformasi Pendidikan

Dirjen Pendidikan Islam ini lalu menilai bahwa saat inilah waktu yang tepat melakukan reformasi pendidikan. Menurutnya, setidaknya ada 3 pihak yang harus selalu bersama-sama dalam tugas reformasi ini. Pertama, pemerintah. Tanggung jawab pemerintah adalah menyiapkan regulasi, menyediakan anggaran yang memadai, dan meningkatkan mutu pelatihan guru. 

Kedua, masyarakat. Masyarakat hendaknya menempatkan kembali guru sebagai profesi terhormat. Pada tahun 60-an dan awal 70-an, guru adalah profesi yang disegani dan dikagumi di masyarakat. Pihak ketiga adalah guru itu sendiri. Guru harus memandang profesinya sebagai entitas yang fundamental. Guru harus membuktikan dirinya berkualitas. Guru tidak sekedar mengajar, memenuhi beban kerja sebagai guru, atau menyetorkan pemberkasan sertifikasi guru, tetapi mampu memberi motivasi secara berkelanjutan, melahirkan inspirasi baru dan menjadi teladan bagi peserta didik. “Itulah tantangan terbesar yang harus diwujudkan oleh guru-guru negeri kita,” tuturnya.

Dalam kunjungan ke beberapa sekolah di Oxford, Inggris, Kamaruddin mengaku memperoleh pengalaman berharga. Pada salah satu kelas TK yang dikunjunginya, ada guru yang bertanya kepada para muridnya yang berjumlah 30 orang. Hebatnya, ketiga puluh murid tersebut aktif dan berebut menjawab pertanyaan guru. “Antara guru-murid tidak ada sekat dan tidak berjarak. Guru dapat duduk sejajar dengan murid, sehingga pembelajaran benar-benar egaliter. Inilah tantangan kita mencetak guru inovatif dan kreatif. Itulah tugas LPTK,” tegas Dirjen.

Terkait pelaksanaan Pendidikan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) 2015, Kamaruddin meminta LPTK untuk kreatif dan inovatif dalam mengembangkan modulnya. “PLPG masih kurang, terlalu singkat waktunya. Mungkin yang pas adalah Pendidikan Profesi Guru (PPG),” tegas Dirjen.

Dalam RPJMN 2015-2019 disebutkan bahwa salah satu program Pendis terpenting adalah reformasi LPTK. Dirjen menuturkan, saat ini terdapat data statistik yang harus segera direspon LPTK, bahwa  angkatan kerja kita 68% adalah lulusa SD-SMP. Sementara yang lulusan perguruan tinggi hanya 6-7 persen. Oleh karenanya, dapat digambarkan rendahnya angkatan kerja kita.

Masih dari data statistik, pada sisi lain, terdapat golden opportunity karena 43% (108 juta) penduduk Indonesia berusia 25 tahun ke bawah. Inilah yang disebut bonus demografi. Di sinilah tantangan LPTK. Menurut Kamaruddin, jika LPTK mampu menyiapkan guru berkualitas, inovatif, dan kreatif tentu akan mendorong perbaikan angkatan kerja secara umum. “Jika kita dapat mengelola bonus demografi ini, Indonesia akan menjadi negara ke-6 sebagai kekuatan ekonomi dunia. Bandingkan, saat ini Indonesia nomor 16 dunia,” tukas Dirjen. (ah/mkd/mkd)